4 Fakta Tentang TBC Yang Bikin Donna Agnesia (Dan Kami) Jadi Tahu Kalau Penyakit Ini Masih Eksis Di Zaman Now!

Tahukah kamu bahwa Indonesia merupakan negara dengan kasus TBC (tuberculosis) terbesar kedua di dunia? Fakta ini cukup menyedihkan, terlebih karena tuberculosis merupakan penyakit menular yang paling banyak menyebabkan kematian dan sudah menjadi ancaman berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Penyakit TBC ini adalah penyakit lama yang terjadi hampir di seluruh dunia dan penanganannya tidaklah sederhana. Sayangnya, banyak orang menganggap penyakit ini sudah selesai. Termasuk kami!

Padahal kenyataannya, berdasarkan laporan Global Tuberculosis Report WHO pada tahun 2017 alias zaman now, Indonesia tercatat sebagai negara kedua dengan penderita TBC terbanyak di dunia, yaitu 1.020.000 jiwa. OH NO 🙁

Baca Juga: Tepung Kelapa Bisa Cegah Diabetes, Benarkah?

Nah, sebelum parno lebih lanjut, ada baiknya kamu tahu dulu deh empat fakta mengenai penyakit TBC berikut:

1. TBC Disebabkan Oleh Kuman


TBC disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis yang ditemukan pertama kali pada tahun 1882 oleh Robert Koch.

2. India Merupakan Negara Dengan Jumlah Penderita TBC Terbanyak

A post shared by India (@india) on

Setelah India, negara selanjutnya yaitu Indonesia, Tiongkok, Filipina, Pakistan, Nigeria, dan Afrika Selatan yang merupakan tujuh negara dengan angka penderita TBC yang cukup besar.

3. Bakteri TBC Tidak Hanya Menyerang Organ Paru


Bakteri TBC juga memiliki kemampuan menyerang berbagai organ tubuh lain seperti selaput otak, usus, tulang, dan kelenjar getah bening di leher dan ketiak.

4. Sinar Matahari Dapat Membunuh Kuman TBC

Pentingnya sinar matahari dan ventilasi udara dapat mengurangi penyebaran kuman-kuman yang terbang terbawa oleh udara.

Karena itu, Forum Stop TBC Partnership Indonesia (FSTPI) meluncurkan suatu gagasan melalui kampanye #PeduliKitaPeduliTBC, untuk mengajak seluruh masyarakat Indonesia lebih peduli terhadap pencegahan penyebaran TBC di Indonesia.

Indonesia dan TBC

Kampanye #PeduliKitaPeduliTBC melibatkan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai kalangan termasuk selebriti seperti Donna Agnesia dan Reza Rahadian, seniman mural Tutugraff, serta generasi millennial.

Artis Donna Agnesia menyampaikan alasannya tertarik dalam kampanye TBC ini. “Ponakanku ada yang pernah menderita TBC. Aku tertarik terlibat karena ingin mengetahui lebih banyak lagi soal penyakit menular ini. Setelah mendapatkan informasi di sini, aku kaget juga, ternyata kasus TBC di negara kita ini sangat banyak.”

Karena masih banyak ketidaktahuan publik tentang masalah Indonesia dan TBC inilah, makanya target kampanye nasional #PeduliKitaPeduliTBC difokuskan pada generasi millennial dalam kisaran usia 15-30 tahun. Format kampanye dalam bentuk video lalu diviralkan lewat berbagai platform media sosial.

Kenapa anak millennial dilibatkan? Well, millennial dianggap perlu dijadikan target kampanye karena kelompok ini akrab dengan penggunaan gawai alias dunia digital dan sangat aktif di media sosial.

Lewat kampanye #PeduliKitaPeduliTBC diharapkan informasi terkait TBC bisa diketahui oleh kaum millennial, terutama bagi teman sebayanya dan keluarganya.

Dengan begitu pesan dari kampanye ini dapat menyebar secara meluas dan dapat merubah pandangan masyarakat mengenai penyakit TBC yang mengerikan, menjadi penyakit TBC yang dapat diobati dan disembuhkan.

Indonesia dan TBC
http://www.arifahwulansari.com/

Dalam kampanye ini, disosialisasikan mengenai proses penyebaran TBC yang terjadi melalui udara saat penderita mengalami batuk atau bersin dan kemudian terhirup oleh orang lain.

Karena itu etika batuk sangat penting untuk disosialisasikan sehingga dapat mencegah penularan kepada orang lain dengan menggunakan masker dan menutup mulut saat batuk dan bersin dan pastikan selalu menjaga pola hidup sehat. Terutama yang menderita batuk-batuk, di mana pun, terutama di ruangan berpenyejuk udara (AC) wajib mengenakan masker.

Pun untuk orang-orang yang yang memiliki kontak langsung dengan pasien TBC, harus diperiksa dan dievaluasi.

Bila sudah terkena TBC, harus dipahami bahwa penyakit ini memiliki kekhususan. Proses pengobatannya terdiri dari kombinasi beberapa jenis obat dalam jumlah dan dosis serta waktu tertentu, selama 6-9 bulan. Penyakit TBC harus segera diobati dan pasti sembuh asal pengobatannya betul dan tidak pernah putus obat.

Kalau penderita TBC pernah putus berobat, wah bakalan timbulin masalah baru dan bisa terkena TBC kebal obat. Makanya, perlu dicamkan betul kalau melalui proses pengobatan yang benar sesuai dengan anjuran dokter, pasien TBC dapat disembuhkan kok.

Yuk sama-sama kita sosialisasikan #PeduliKitaPeduliTBC!

Penulis: Tifany Dheanisa