5 “Dosa” Masa Lalu Beauty Blogger Putricaya ‘Puchh’ Dalam Urusan Kecantikan

Breaking news 2017! Setelah mengenalnya bertahun-tahun (bahkan saat dirinya masih jadi Beauty Editor majalah lifestyle), kami baru tahu kalau Putricaya (@puchh) menyimpan “beauty sins” di masa lalu. Bersyukur sih, setidaknya antara Puchh dan kami tidak beda jauh. Hahaha. Maksudnya sama-sama pernah keliru dalam merawat kecantikan.

Namun, bukan Putri namanya kalau dia tidak belajar dari kesalahan dan “merevisi” kebiasaan-kebiasaan itu menjadi benar. Terbukti kan sekarang, ia bisa sukses menjadi beauty influencer yang “ilmu” beauty-nya menginspirasi dan membantu banyak beauty enthusiast lainnya. Berikut ini, Puchh mengaku lima “dosa” masa lalunya untuk urusan kecantikan:

1. Mengeringkan Wajah Dengan Handuk (Dan Handuknya Bukan Handuk Baru Pula) 

A photo posted by putricaya (@puchh) on

Dan dalam bahasanya Putri,”Ew.” Rasa jijik itu bukan tanpa alasan. “Bayangkan saja betapa banyaknya bacteria build up yang mengumpul di handuk kotor, plus teksturnya yang kasar ketika digosokkan kepada kulit yang delicate,” jelasnya.

Akibatnya kulitnya kusam dan selalu berjerawat, meskipun tidak sampai seluruh wajah. Teksturnya juga agak bumpy. Bahkan pernah beberapa kali dihadiahi cystic acne. “Pokoknya kulitku borderline problematic deh saat itu, tak ada bening-beningnya,” aku Putri.

Bagaimana ia memperbaiki kebiasaan itu?

www.depositphotos.com

Sehabis membersihkan kulit wajah, Puchh akan membiarkannya basah dan kering sendiri. Atau dikeringkan memakai paper towel (tisu dapur). “The difference after I did this is astounding,”jelasnya.

2. Membersihkan wajah hanya dengan satu macam cleanser saja

A photo posted by putricaya (@puchh) on

Saat belum paham betapa pentingnya ritual double cleansing, Putri masih pede untuk membersihkan wajah dengan satu jenis pembersih wajah. (11/12 sama Putri, kamu pasti juga seringnya pakai facial foam saja kan?). Padahal Putri kerap ber-makeup dan seharian memakai tabir surya. Ya jelas, kebiasaan itu memastikan kotoran-kotoran dan sisa sunscreen tidak terangkat sempurna dari kulit.

Baca Juga: Pembersih Makeup Andalan 3 Vlogger Indonesia

“Obviously, my skin was never completely blemish free back then.” Begitu aku Putri. We feel you, Puchh 🙁

Bagaimana ia memperbaiki kebiasaan itu?

www.shutterstock.com

“Always use a cleansing oil or cleansing milk after sunscreen and/or wearing makeup. Water-based cleanser saja tak akan cukup untuk mengangkat keduanya. Baru kemudian gunakan cleanser kedua, diutamakan cleanser dengan pH yang sesuai.”

3. Melewatkan aplikasi pelembap hanya karena merasa kulit sudah cukup ‘berminyak’

A photo posted by putricaya (@puchh) on

Meskipun berminyak, kulit Putri ternyata dehidrasi. Masalah umum yang kerap dialami banyak perempuan di Indonesia. “Aku sok tahu sih, tidak mau menggunakan pelembap. Kupikir tabir surya saja sudah cukup lembap. Akibatnya, produksi minyak malah makin banyak, to compensate the lack of moisture, dan makin cenderung untuk break out. Pori-pori kelihatan lebih besar dan kasar.”

Bagaimana ia memperbaiki kebiasaan itu?

www.istockphoto.com

“Sekarang aku tak pernah lepas dari pelembap, although it does make me look way shinier. Lebih baik berkilap-kilap dulu, daripada menyesal belakangan. Aku memilih emulsi atau pelembap bertekstur gel untuk siang hari, yang memang lebih ringan dan tepat untuk jenis kulitku.”

4. Memasang eyelash extension ‘abal-abal’

A photo posted by putricaya (@puchh) on

“Tahu kan, kalau sekarang eyelash extension makin berjamuran, mulai dari kelas seratus ribuan hingga jutaan? Well, should you decided to go for lash extension, choose the latter.” Yes, Put. Kami menuruti saranmu. Buktinya ini nih, kesuksesan pengalaman pertama pasang eyelash extension.

Lanjut Putri,”Aku pernah bergantung sama extension bulumata yang kelasnya Rp150 – 350 ribu selama hampir setahun dan berakhir dengan bulumata pitak. Bukan bermaksud somse atau sok mewah, tapi dalam soal extension, ada harga ada rupa.”

Baca Juga: 5 Hal Yang Perlu Kamu Tahu Soal Eyelash Extension

Extension murahan cenderung menggunakan material yang juga ‘murah’ dan teknik pemasangan yang tidak se-sophisticated extension premium. Alhasil, kecenderungan untuk rasa gatal dan bulumata yang mudah rontok pun lebih besar.

Bagaimana ia memperbaiki kebiasaan itu?

“Pilih tempat extension yang Japanese or Korean trained dan ‘istirahatkan’ bulumata setiap tiga bulan. Dalam masa rehat itu, gunakan bulumata palsu saja. Susah? Practice makes perfect and it’s way better than potentially having no eyelashes.”

A photo posted by Talika Indonesia (@talikaid) on

“Kalau sudah kadung bernasib kayak aku, “kembalikan” bulumata yang hilang dan pitak tersebut dengan menggunakan serum bulumata yang terbukti tokcer. Aku pakai Talika dan Latisse.”

5. Menggunakan epilator di saat sedang menstruasi

www.istockphoto.com

Epilator, yang mencabut bulu hingga ke akar bak pinset otomatis, memang tergolong praktis. Sudah begitu, lumayan memangkas ongkos untuk waxing, karena bisa dilakukan sendiri.

“I loved it, until one day I did my epilating session on my period, which was when my skin is especially sensitive. Alhasil kulitku iritasi parah: gatal dan bentol-bentol, hingga luka dan berbekas,” kenang Putri tentang problem kulitnya.

Bagaimana ia memperbaiki kebiasaan itu?

www.vestida.etc.br

Perhatikan jadwal menstruasimu setiap bulannya. Kira-kira jatuh antara tanggal berapa saja? Usahakan jangan melakukan hair removal seminggu sebelum dan pada saat menstruasi. Percayalah, hampir semua bagian tubuhmu sedang sangat sensitif. Tunda dulu treatment sampai masa datang bulanmu benar-benar selesai.

Eits, Masih Ada Lagi Nih 3 Tips Puchh Buat Para Beauty Newbie:

A photo posted by putricaya (@puchh) on

  • Kalau memiliki bujet terbatas namun ingin mencoba produk-produk high end yang populer, invest in a great chemical exfoliator/masker/peeling atau serum. Lebih baik lagi jika bisa mencoba trial size terlebih dulu, daripada ikut-ikutan nafsu beli full size, eh tak tahunya tidak cocok.
  • Tak ada salahnya mengeluarkan uang ekstra untuk melakukan perawatan di klinik estetika untuk menstimulasi kolagen seperti RF, laser, or even filler. Karena menurut Puchh, tak semua masalah kulit bisa terpecahkan melalui krim semata.
  • Jangan terus menerus menggunakan satu jenis produk atau brand saja dalam jangka waktu yang lama. Efektivitas dari produk tersebut tak akan sebagus ketika awal-awal menggunakannya. Ketika satu rangkaian sudah habis, saatnya icip-icip produk lain. Dan ketika produk baru tersebut sudah habis (kurang lebih 3-6 bulan) boleh saja kalau mau kembali ke skincare yang awal. “Just give your skin a rest,” tegasnya.

Nah, mumpung ini awal tahun baru, ayo kita “tebus dosa-dosa” masa lalu kita dan jadi cantik secara sehat kayak Puchh.